Wawancara dengan Para Dokter Perempuan Spesialis Kandungan

Info Dokter admin

dokter kandungan Wawancara dengan Para Dokter Perempuan Spesialis Kandungan – Berikut ini artikel wawancara tentang lima orang perempuan yang berperan ganda sebagai ibu sekaligus dokter kandungan. Mereka adalah dr. Erna, dr. Wita, dr. Ratna, dan dr. Indra. Artikel dimuat di Jawa Pos, Metropolis edisi Minggu 20 Desember 2009.

::::

Apa pertimbangannya menjadi dokter spesialis kandungan?

Erna: Saya kan perempuan. Kalau harus ditolong dokter laki-laki waktu melahirkan, tentu saja saya malu. Terus, saya mikir, pasti banyak perempuan lain yang begitu. Akhirnya, wa­ktu ada kesempatan sekolah spesialis, saya milih itu biar bisa menolong

Wita: 
Kalau saya, penyebabnya pe­ngalaman. Dulu, setelah lulus, saya tidak langsung sekolah, tapi me­nikah dan tinggal di Jakarta bersama suami. Waktu hamil anak pertama, saya bingung mencari dokter kan­­dungan yang perempuan. Padahal, saya berada di Jakarta pada 1990. Akhirnya dapat sih, tapi carinya mutar-mutar.

Ratna: Sebab, menjadi dokter kandungan itu tidak hanya menye­lamatkan satu nyawa, melainkan langsung dua. Beda dengan yang lain, kan. Melahirkan adalah pengalaman menakjubkan. Meskipun saya sudah ratusan kali menolong persalinan, setiap akan menangani ibu melahirkan, saya deg-degan. Saya ingin anak yang lahir sehat dan lucu. Soalnya, kami sebagai ibu tentu ingin begitu.

Indra: Mungkin disebabkan tidak ba­nyak perempuan yang menjadi dokter kandungan. Selama kami sekolah, sekitar lima tahun, kami tidak bo­leh hamil. Soalnya, ritme kerjanya cu­kup berat. Mulai sekolah, jaga, dan sebagainya. Takutnya, kami ke­le­lahan, lalu mengganggu janin.

Ety: Jujur saja, saya nggak pernah kepikiran jadi dokter spesialis kan­dungan. Suami saya yang menyarankan saya mengambil bidang itu. Me­nurut dia, membantu orang melahir­kan adalah perbuatan bagus. Saya ti­dak keberatan, sih. Apalagi, dulu, waktu masih menjadi dokter muda, saya takjub saat melihat proses bayi keluar, mulai kepala hingga seterusnya. Jadi, bukan masalah.

Sebagai perempuan, dokter, sekaligus ibu, apa kesulitan yang sering dihadapi?

Wita: Membagi prioritas. Sebab, semuanya menuntut perhatian. Mi­sal­nya anak, pasien, dan diri sendiri. Bi­asanya, keluarga sudah paham bahwa mereka harus sering dikorbankan. Saya berusaha fleksibel. Jadi, misalnya ada satu kondisi saat se­muanya menuntut perhatian, saya ka­tegorikan, yang paling urgen akan saya dahulukan.

Ratna: Sama sih. Bagi waktu. Mungkin, yang agak mengganjal adalah pasien yang menelepon te­ngah malam untuk masalah yang tidak terlalu urgen. Karena waktu tidur saya terbatas, saat pagi pasti saya merasa tidak enak. Itu bisa memengaruhi aktivitas saya sepanjang hari.

Indra: Rasanya rata-rata hampir sama. Membagi waktulah yang paling susah. Soalnya, selain praktik, ka­mi harus mengajar plus sekolah. Kami kan harus update informasi. Belum lagi masalah keluarga di rumah. Jadi, banyak yang dikerjakan.

Erna: Iya. Tugas kami sangat banyak. Apalagi, saya kebagian jaga. Itu berat. Soalnya, saya tidak bisa ketemu anak seharian. Saya berangkat, dia belum bangun. Saya pulang siang, dia tidur siang. Kalau saya pulang malam, dia sudah tidur lagi. Biasanya, kalau begitu, sedih banget rasanya.

Ety: Benar banget. Pisah dengan anak itulah yang berat. Dulu, setelah lulus spesialis, saya nggak mau kerja. Enam bulan saya nganggur di rumah. Main-main sama anak terus. Rasanya senang banget melihat mereka belajar ini dan itu. Tapi, akhirnya saya disindir suami. Masak, spesialis kandungan nggak praktik. Akhirnya, saya mau praktik.

Biasanya, apa yang dilakukan untuk refreshing?

Indra: Pijat. Hehehe. Saya paling senang dipijat. Biasanya, pergi berdua sama suami. Satu atau dua jam. Bi­asanya langsung segar. Paling, se­bulan bisa tiga kali.

Wita: Saya jalan-jalan ke mal sama anak-anak. Meski tidak belanja, yang penting jalan-jalan. Setelah itu, makan. Itu jadi penebus karena saya sering meninggalkan mereka.

Ratna: Saya tidak terlalu suka jalan-jalan. Paling hanya main sama anak-anak. Saya juga tidak terlalu suka ke salon. Rasanya apa ya. Eman, waktu berjam-jam dipakai diam di salon.

Erna: Saya juga lebih suka main sama anak. Biasanya, kalau pulang, saya mbatin mudah-mudahan dia belum tidur. Jadi, saya bisa main meski sebentar.

Ety: Sama. Saya lebih suka main sama anak. Dia paling suka pergi ke pasar Minggu pagi dekat rumah. Jadi, biasanya saya jalan-jalan sama dia, terus nyuapin makan sambil naik kereta kelinci. (any/ayi)

:::

Profil dokter:

dr. Ernawati, Sp. OG (Erna)

Ibu satu anak, 32 tahun

Staf Divisi Fetomaternal

SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

FK Unair-RSUD dr Soetomo

dr. Sri Ratna Dwiningsih,  Sp. OG (K) (Ratna)

Ibu tiga anak, 36 tahun

Staf Divisi Fertilitas & Endokrinologi Reproduksi

SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

FK Unair-RSUD dr Soetomo

dr Eighty Mardiyan Kurniawati, Sp. OG (Ety)

Ibu dua anak, 32 tahun

Staf Divisi Uroginekologi

SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

FK Unair-RSUD dr Soetomo

dr. Wita Saraswati, Sp. OG (Wita)

Ibu tiga anak, 45 tahun

Staf Divisi Onkologi Ginekologi

SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

FK Unair-RSUD dr Soetomo

dr. Indra Yuliati, Sp. OG (Indra)

Ibu satu anak, 34 tahun

Staf Divisi Onkologi Ginekologi

SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

FK Unair-RSUD dr Soetomo

sumber: http://pasarkulakan.wordpress.com/2009/12/24/cerita-para-perempuan-dokter-kandungan/

Kata kunci:

  • doker kandungan perempuan d jakarta
  • Mewawancarai seorang dokter perempuan
  • tekss untuk mewawancarai dokter kandungan
  • Www pasarkulakan com

You Might Also Like

Most popular articles related to Wawancara dengan Para Dokter Perempuan Spesialis Kandungan
  • Ibu Hamil Berpuasa? Bolehkah?
  • Mengenal Kanker Serviks
  • Dokter Kandungan Perempuan di Surabaya
  • Manfaat Memberikan ASI Ekslusif pada Bayi
  • Tahapan Perkembangan Janin: Minggu Pertama – Minggu Kelima
  • Selulit yang Nggak Asyik
  • Berharganya Serviks (Leher Rahim) Bagi Perempuan
  • Manfaat Menyusui bagi Sang Ibu