Fruktosa Lebih Berbahaya daripada Glukosa

Fruktosa lebih berbahaya daripada glukosa
Fruktosa sudah banyak dikenal sangat merugikan kesehatan dalam dosis besar dan telah dikaitkan dengan berbagai penyakit meliputi obesitas, diabetes tipe 2, dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Bukti lebih lanjut menunjukkan bahwa fruktosa berefek lebih buruk daripada glukosa. Bahan ini berkontribusi lebih banyak daripada glukosa terutama dalam peningkatan berat badan dengan cara mengurangi pembakaran lemak dan tingkat metabolisme.

Fruktosa merupakan gula utama yang ditemukan dalam buah, namun dalam bentuk ini, fruktosa juga disertai dengan serat, nutrisi lain, serta enzim-enzim yang membuatnya mudah dicerna tanpa menurunkan kadar mineral atau menaikan level gula darah.

Namun, bentuk lain fruktosa, yakni sirup jagung fruktosa memiliki efek negatif pada tubuh, Bentuk gula buatan ini, yakni gula utama pada minuman ringan, memiliki efek toksik pada tubuh seperti menghambat pencernaan, menyebabkan ketidakseimbangan kimia, dan menghilangkan vitamin serta mineral dalam tubuh.

Sirup jagung fruktosa tinggi dibuat dengan murah melalui proses kimia dari pati jagung, dan mengandung fruktosa serta glukosa dalam ukuran yang kurang lebih sama.

Zat pemanis ini berkontribusi pada diet kita dalam bentuk bahan makanan seperti sereal, makanan yang dipanggang seperti biskuit dan cake, yoghurt manis, softdrink, dan juga makanan lain yang gurih seperti saus masak, bumbu (contoh: kecap), dan biskuit.

Potensi bahaya fruktosa terhadap kesehatan telah ditunjukkan lebih jauh dengan penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini secara online. Dalam penelitian ini pria sehat dengan berat badan normal berusia 2o tahun – 50 tahun mengkonsumsi minuman:

  • 40 g fruktosa per hari (fruktosa medium)
  • 80 g fruktosa per hari(fruktosa tinggi)
  • 40 g glukosa per hari(glukosa medium)
  • 80 g glukosa per hari (glukosa tinggi)
  • 80 g sukrosa per hari(sukrosa tinggi)

Sebagian pria tidak mengkonsumsi minuman ini sama sekali dan dibimbing tentang cara mengurangi jumlah fruktosa dalam diet mereka. Penelitian ini berlangsung selama tiga minggu.

Berikut adalah beberapa temuan studi ini:

  • Protein C-reaktif, penanda inflamasi, meningkat di 5 kelompok
  • Kadar kolesterol LDL menurun pada kelompok sukrosa tinggi dan sukrosa tinggi (partikel LDL yang lebih sedikit berhubungan dengan tingginya risiko penyakit kardiovaskuler)
  • Perubahan kadar partikel LDL konsisten dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskuler yang terjadi pada kelompok fruktosa medium, fruktosa tinggi dan sukrosa tinggi.
  • Perbandingan pinggang -pinggul meningkat pada kelompok fruktosa medium, fruktosa tinggi, dan sukrosa tinggi (semakin tinggi perbandingan pinggang -pinggul berhubungan dengan tingginya risiko penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2).
  • Kadar glukosa meningkat di 5 kelompok
  • Kadar Leptin meningkat pada kelompok glukosa mediumdan glukosa tinggi (leptin umumnya adalah hormon diperlukan, dalam mempercepat metabolism dan membantu selera makan)
  • Semua ini menunjukkan bahwa fruktosa yang ada dalam minuman berpemanis lebih membahayakan kita daripada glukosa dalam kadar yang sama. Namun tetap saja yang terbaik adalah tidak mengkonsumsi keduanya.

Fruktosa vs glukosa serta naiknya berat badan

Riset ini melibatkan pria dan wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas dengan memberi mereka minuman manis fruktosa dan glukosa selama 10 minggu. Total jumlah gula sebesar 25 % dari total energi yang diperlukan. Jadi, seseorang yang biasanya mengkonsumsi 200 kalori per hari, akan mengkonsumsi sebesar 500 kalori atau 125 gram gula.

Peserta penelitian ini dianalisis dengan serangkaian ketentuan meliputi:

oksidasi lemak (metabolisme) setelah makan
energi pengeluaran saat istirahat (REE)  (kadar metabolisme basal)
Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi fruktosa mendorong penurunan signifikan baik pada oksidasi lemak setelah makan maupun  energi pengeluaran saat istirahat (REE). Namun demikian, ternyata penurunan ini tidak terlihat pada konsumsi glukosa. Penemuan ini menunjukkan bahwa fruktosa lebih berpotensi menggemukkan daripada glukosa.

Jumlah fruktosa dikonsumsi dalam percobaan ini cukup besar (kira-kira setara dengan 3 kaleng soda/ soft drink  setiap hari ). Namun demikian, penelitian ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa fruktosa dapat membahayakan kesehatan serta lebih merusak daripada glukosa.

diterjemahkan dari  http://www.healthymuslim.com/articles/qtbdn-fructose-found-to-be-more-harmful-than-glucose.cfm

image by Val Lawless

Share Button

Comments

comments